IPO Bach Multi Global: Menilik Prospek Bisnis Genset dan Infrastruktur Telekomunikasi

PT Bach Multi Global Tbk (BACH) bersiap melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO di Bursa Efek Indonesia. Perseroan menjalankan kegiatan usaha utama di bidang...

PT Bach Multi Global Tbk (BACH) bersiap melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO di Bursa Efek Indonesia. Perseroan menjalankan kegiatan usaha utama di bidang penjualan dan penyewaan genset, serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.

Berdasarkan prospektus awal, Perseroan menawarkan sebanyak 615 juta saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham. Jumlah tersebut mewakili 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Harga penawaran berada di kisaran Rp400–Rp500 per saham, sehingga dana yang berpotensi dihimpun Perseroan mencapai sekitar Rp246 miliar hingga Rp307,5 miliar.  

Jadwal IPO Bach Multi Global

Masa penawaran awal dijadwalkan berlangsung pada 22–24 Juni 2026. Selanjutnya, tanggal efektif diperkirakan pada 29 Juni 2026, masa penawaran umum pada 1–3 Juli 2026, tanggal penjatahan pada 3 Juli 2026, distribusi saham secara elektronik pada 6 Juli 2026, dan pencatatan saham di BEI pada 7 Juli 2026.  

Dengan jumlah saham setelah IPO sekitar 4,08 miliar saham, kapitalisasi pasar Bach Multi Global diperkirakan berada di kisaran Rp1,63 triliun hingga Rp2,04 triliun berdasarkan rentang harga penawaran.

Kinerja Keuangan Tumbuh Kuat

Kinerja keuangan Bach Multi Global menunjukkan pertumbuhan yang cukup solid. Pada 2025, pendapatan neto Perseroan tercatat sebesar Rp1,73 triliun, naik dari Rp1,24 triliun pada 2024 dan Rp1,00 triliun pada 2023.

Laba bruto juga meningkat menjadi Rp311,43 miliar pada 2025, dibandingkan Rp198,02 miliar pada 2024 dan Rp160,81 miliar pada 2023. Sementara itu, laba tahun berjalan pada 2025 mencapai Rp155,55 miliar, naik signifikan dari Rp78,74 miliar pada 2024 dan Rp35,42 miliar pada 2023.

Dari sisi rasio, margin laba bersih Perseroan naik menjadi 8,98% pada 2025 dari 6,35% pada 2024. ROA juga meningkat menjadi 12,62%, sedangkan ROE mencapai 29,02% pada 2025. Current ratio berada di level 1,29 kali, turun dari 1,88 kali pada 2024, tetapi masih berada di atas 1 kali.  

Valuasi IPO BMG

Jika memakai laba tahun berjalan 2025 sebesar Rp155,55 miliar, maka valuasi PER Bach Multi Global berada di kisaran sekitar 10,5 kali hingga 13,1 kali. Sementara itu, jika memakai ekuitas 2025 sebesar Rp535,95 miliar, PBV sebelum IPO berada di kisaran sekitar 3,05 kali hingga 3,81 kali.

Namun, setelah memperhitungkan tambahan dana IPO secara kasar, PBV pasca-IPO berpotensi turun ke kisaran sekitar 2,09 kali hingga 2,42 kali. Artinya, dari sisi valuasi, saham ini terlihat lebih moderat dibanding beberapa emiten IPO lain yang datang dengan PER sangat tinggi.

Penggunaan Dana IPO

Dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk dua kebutuhan utama. Pertama, sekitar Rp91,02 miliar akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk atas fasilitas pinjaman jangka panjang Omnibus Revolving Loan. Kedua, sisanya sekitar Rp213,48 miliar akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk pembayaran kepada pemasok dalam rangka pembelian genset yang akan dijual maupun disewakan.  

Penggunaan dana ini menunjukkan bahwa IPO tidak hanya diarahkan untuk memperkuat neraca, tetapi juga untuk mendukung aktivitas bisnis inti Perseroan. Porsi modal kerja yang besar cukup relevan dengan karakter bisnis Bach Multi Global yang membutuhkan ketersediaan genset untuk penjualan dan penyewaan.

Prospek Usaha

Prospek usaha Perseroan ditopang oleh dua sektor utama. Pertama, kebutuhan genset di Indonesia masih didorong oleh pembangunan infrastruktur, ekspansi kawasan industri, proyek hilirisasi, serta kebutuhan pasokan listrik cadangan di berbagai wilayah. Kedua, bisnis jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi mendapat dukungan dari pertumbuhan konsumsi data, perluasan jaringan 4G dan 5G, serta kebutuhan pemeliharaan menara telekomunikasi.

Perseroan juga memiliki entitas anak, yaitu PT Bach Multi Infrastruktur (BMI) yang bergerak di bidang jasa konstruksi infrastruktur telekomunikasi. Prospektus menyebutkan bahwa sejak Juli 2023, Perseroan telah menjadi bagian dari grup perusahaan infrastruktur digital independen terkemuka di Indonesia yang memiliki dan mengoperasikan puluhan ribu menara telekomunikasi serta jaringan fiber optik di berbagai wilayah Indonesia.  

Risiko yang Perlu Diperhatikan

Risiko utama Bach Multi Global adalah ketergantungan terhadap pihak pemasok genset. Risiko ini penting karena bisnis penjualan dan penyewaan genset sangat bergantung pada ketersediaan produk, harga beli, waktu pengiriman, dan hubungan dengan pemasok.

Selain itu, Perseroan juga menghadapi risiko persaingan usaha, piutang usaha yang tidak tertagih, perubahan kebijakan pemerintah atau PLN, konsolidasi industri tower telekomunikasi, ketergantungan terhadap pertumbuhan pembangunan tower baru, serta risiko tidak terpenuhinya service level agreement atau SLA. Untuk investor, risiko yang perlu diperhatikan mencakup fluktuasi harga saham, likuiditas saham, dan kemampuan Perseroan membayar dividen.  

Kebijakan Dividen

Setelah IPO, Perseroan berniat membagikan dividen kas sebanyak-banyaknya 50% dari laba bersih, mulai tahun 2027 berdasarkan laba bersih tahun 2026. Meski begitu, pembagian dividen tetap bergantung pada keputusan RUPS, kondisi keuangan, kebutuhan modal kerja, serta rencana pengembangan usaha Perseroan.  

Akhir kata

IPO PT Bach Multi Global Tbk menarik untuk dicermati karena Perseroan memiliki pertumbuhan pendapatan dan laba yang cukup kuat dalam tiga tahun terakhir. Valuasinya juga relatif masih berada di level moderat jika dibandingkan dengan laba 2025.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko utama berupa ketergantungan terhadap pemasok genset, kebutuhan modal kerja yang besar, serta dinamika bisnis infrastruktur telekomunikasi. Secara umum, IPO ini cocok masuk daftar pantauan investor yang mencari emiten dengan eksposur pada bisnis genset, infrastruktur, dan telekomunikasi.

Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan membeli atau menjual saham. Semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *