PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman penutup dengan merek INACO, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham atau IPO. Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 350.000.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham.
Jumlah saham yang dilepas tersebut setara dengan maksimal 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Rentang harga penawaran ditetapkan sebesar Rp900 hingga Rp1.120 per saham. Dengan demikian, nilai emisi IPO Niramas Utama berpotensi mencapai sebanyak-banyaknya Rp392 miliar.
Berdasarkan prospektus awal, seluruh saham yang ditawarkan merupakan saham baru dari portepel. Artinya, dana hasil IPO akan masuk ke perseroan, bukan kepada pemegang saham lama. Setelah IPO, jumlah saham tercatat perseroan akan menjadi sebanyak-banyaknya 1,35 miliar saham. Porsi kepemilikan masyarakat akan mencapai 25,93%, sedangkan PT Niramas Utama International masih menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 73,92%.
Bergerak di Industri Makanan dan Minuman Penutup
Niramas Utama merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan dan minuman penutup. Perseroan dikenal melalui produk-produk berbasis jelly, nata de coco, pudding, minuman ringan, dan produk makanan olahan lainnya dengan merek INACO.
Perseroan berkantor pusat di Bekasi dan memiliki empat fasilitas pabrik yang berlokasi di Bekasi, Pandaan, Pontianak, dan Sukabumi. Kegiatan usaha yang benar-benar dijalankan pada saat prospektus diterbitkan adalah industri makanan dan minuman penutup.
Dari sisi prospek, perseroan menilai industri makanan dan minuman masih memiliki fundamental yang kuat, terutama karena ditopang konsumsi domestik Indonesia. Segmen makanan penutup juga dinilai memiliki ruang pertumbuhan, seiring meningkatnya kebutuhan produk makanan olahan yang praktis dan mudah dikonsumsi.
Dana IPO Mayoritas untuk Ekspansi Produksi
Dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk beberapa kebutuhan utama. Porsi terbesar, sekitar 51,04%, akan digunakan untuk penyertaan modal kepada anak usaha, PT Niramas Pandaan Sejahtera atau NPS. Dana tersebut kemudian akan dipakai untuk belanja modal, termasuk pembelian, pelunasan, dan instalasi mesin produksi, peralatan, serta perlengkapan untuk meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly.
Selanjutnya, sekitar 18,36% dana IPO akan digunakan perseroan untuk belanja modal pembelian mesin, peralatan, dan perlengkapan guna meningkatkan kapasitas penyimpanan gudang serta mempercepat proses logistik. Sekitar 10,63% dana akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok utang jangka pendek KMK 1 dan KMK 2 kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Per 31 Maret 2026, total pokok pinjaman Mandiri tercatat Rp94 miliar dan setelah pembayaran sebagian utang, saldo kewajiban ditargetkan turun menjadi Rp54 miliar. Sisanya, sekitar 19,97%, akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, biaya operasional, dan kegiatan pemasaran.
Komposisi penggunaan dana ini menunjukkan bahwa IPO Niramas Utama tidak hanya diarahkan untuk ekspansi kapasitas produksi, tetapi juga untuk memperkuat struktur keuangan melalui penurunan sebagian utang bank.
Pendapatan Turun, tetapi Laba Naik Signifikan
Kinerja keuangan Niramas Utama menunjukkan pola yang cukup menarik. Dari sisi penjualan, perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp753,05 miliar pada 2025. Angka ini turun dibandingkan 2024 sebesar Rp788,43 miliar dan 2023 sebesar Rp838,94 miliar. Artinya, secara top line, perseroan masih menghadapi tekanan penurunan penjualan dalam dua tahun terakhir.
Namun, dari sisi laba, kinerja perseroan justru membaik signifikan. Laba tahun berjalan naik menjadi Rp39,03 miliar pada 2025, dibandingkan Rp11,63 miliar pada 2024 dan Rp1,68 miliar pada 2023. Margin laba bersih juga meningkat menjadi 5,18% pada 2025, dari 1,48% pada 2024 dan 0,20% pada 2023.
Kenaikan laba di tengah penurunan pendapatan mengindikasikan adanya perbaikan efisiensi, terutama dari sisi beban pokok pendapatan. Beban pokok pendapatan turun dari Rp528,82 miliar pada 2024 menjadi Rp462,27 miliar pada 2025. Hal ini membuat laba bruto meningkat dari Rp259,61 miliar menjadi Rp290,78 miliar.
Rasio profitabilitas juga ikut membaik. ROE perseroan naik menjadi 26,82% pada 2025 dari 9,81% pada 2024. ROA juga naik menjadi 7,07% dari sebelumnya 2,23%. Sementara itu, current ratio membaik menjadi 1,14 kali pada 2025 dari 0,98 kali pada 2024, menunjukkan posisi likuiditas jangka pendek yang lebih sehat.
Valuasi IPO: PER Sekitar 31–39 Kali
Dengan jumlah saham setelah IPO sebanyak 1,35 miliar saham dan laba tahun berjalan 2025 sebesar Rp39,03 miliar, laba per saham sederhana setelah IPO berada di kisaran Rp28,9 per saham. Jika memakai rentang harga IPO Rp900–Rp1.120, maka PER sederhana berada di kisaran sekitar 31,1 kali hingga 38,7 kali.
Dari sisi kapitalisasi pasar, pada harga Rp900 per saham, market cap perseroan berada di kisaran Rp1,21 triliun. Sementara pada harga Rp1.120 per saham, kapitalisasi pasar berpotensi mencapai sekitar Rp1,51 triliun.
Valuasi tersebut perlu dicermati investor karena harga IPO terlihat cukup premium jika hanya dibandingkan dengan laba 2025. Namun, pasar biasanya juga akan menilai prospek ekspansi, pertumbuhan segmen jelly dan gummy candy, serta kemampuan perseroan menjaga margin laba setelah kapasitas produksi meningkat.
Risiko Utama: Bahan Baku dan Likuiditas Saham
Prospektus mencatat bahwa risiko utama yang dihadapi perseroan adalah ketersediaan dan volatilitas harga bahan baku. Risiko ini penting karena bisnis makanan dan minuman sangat bergantung pada stabilitas pasokan, harga bahan baku, dan efisiensi produksi. Selain itu, perseroan juga menghadapi risiko persaingan industri, gangguan distribusi dan logistik, reputasi merek, kualitas bahan baku, regulasi, serta risiko pengendalian oleh pemegang saham pengendali.
Dari sisi investor, risiko yang perlu diperhatikan adalah potensi fluktuasi harga saham dan risiko tidak likuidnya saham yang ditawarkan dalam IPO. Risiko likuiditas ini umum terjadi pada saham baru apabila minat pasar sekunder tidak cukup besar setelah pencatatan.
Kebijakan Dividen Setelah IPO
Setelah IPO, Niramas Utama berencana membayarkan dividen tunai setiap tahun dengan rasio sebanyak-banyaknya 30% dari laba bersih setelah penyisihan cadangan wajib. Namun, pembagian dividen tetap bergantung pada keputusan RUPS, kondisi keuangan, tingkat kesehatan perseroan, dan rencana pengembangan bisnis. Hingga prospektus diterbitkan, perseroan belum pernah membagikan dividen kepada pemegang saham.
Jadwal IPO Niramas Utama
Berdasarkan prospektus awal, masa penawaran awal berlangsung pada 15–22 Juni 2026. Tanggal efektif dari OJK dijadwalkan pada 29 Juni 2026, masa penawaran umum pada 1–3 Juli 2026, penjatahan pada 3 Juli 2026, distribusi saham secara elektronik pada 6 Juli 2026, dan pencatatan saham di BEI pada 7 Juli 2026. Penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO ini adalah PT Sucor Sekuritas.
Penutup
IPO PT Niramas Utama Tbk menawarkan cerita pertumbuhan dari emiten sektor makanan dan minuman penutup dengan merek yang sudah dikenal melalui INACO. Kinerja laba 2025 menunjukkan perbaikan signifikan, meskipun pendapatan masih mengalami penurunan. Penggunaan dana IPO juga cukup produktif karena mayoritas diarahkan untuk ekspansi kapasitas produksi, logistik, modal kerja, dan sebagian pembayaran utang.
Namun, investor tetap perlu mencermati valuasi IPO yang berada di kisaran PER sekitar 31–39 kali berdasarkan laba 2025. Selain itu, risiko volatilitas bahan baku, persaingan industri, dan likuiditas saham setelah listing juga perlu menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informasi berdasarkan prospektus awal dan bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.







