Waktos – Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) tengah menjadi sorotan tajam di pasar modal setelah mengalami penurunan ekstrem selama delapan hari berturut-turut. Berdasarkan data perdagangan hingga Selasa (21/10/2025), harga saham DADA ditutup di Rp51 per lembar, turun 13,56% dibandingkan hari sebelumnya.
Penurunan ini memperpanjang tren auto reject bawah (ARB) yang telah terjadi selama delapan hari beruntun sejak 10 Oktober 2025, ketika saham DADA masih berada di level Rp152 per lembar. Artinya, dalam periode kurang dari dua minggu, harga saham anjlok lebih dari 66% dari posisi awal.
Rangkaian ARB Harian Saham DADA
| Tanggal | Harga Penutupan (Rp) | Perubahan | Nilai Transaksi |
|---|---|---|---|
| 21 Okt 2025 | 51 | -13.56% | 130.98B |
| 20 Okt 2025 | 59 | -14.49% | 49.53B |
| 17 Okt 2025 | 69 | -14.81% | 373.88B |
| 16 Okt 2025 | 81 | -14.74% | 4.99B |
| 15 Okt 2025 | 95 | -14.41% | 4.13B |
| 14 Okt 2025 | 111 | -14.62% | 3.90B |
| 13 Okt 2025 | 130 | -14.47% | 13.63B |
| 10 Okt 2025 | 152 | -14.61% | 900.88B |
Belum ada pernyataan resmi dari manajemen perusahaan terkait penyebab kejatuhan harga yang terus berlanjut ini. Namun, pelaku pasar menduga bahwa tekanan jual besar-besaran berasal dari aksi profit taking sebelumnya, ditambah kekhawatiran terhadap kinerja keuangan emiten yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Volume transaksi juga menunjukkan pola yang fluktuatif dari Rp900 miliar pada 10 Oktober, turun tajam menjadi hanya Rp3-4 miliar di pertengahan pekan, sebelum melonjak kembali di atas Rp130 miliar pada penutupan 21 Oktober. Lonjakan tersebut mengindikasikan mulai adanya aksi spekulatif dari investor ritel yang mencari peluang di saham yang sudah terkoreksi dalam.
Analis pasar menilai, meskipun saham DADA kini berada di level terendah dan berpotensi teknikal rebound, risiko masih sangat tinggi. Dengan delapan kali ARB berturut-turut, sentimen negatif masih mendominasi, dan investor disarankan untuk menunggu konfirmasi pembalikan arah (reversal) sebelum mengambil posisi beli.
Saham DADA menjadi contoh nyata bagaimana volatilitas ekstrem dapat terjadi di bursa saham Indonesia. Dari Rp152 menjadi Rp51 hanya dalam delapan hari perdagangan, penurunan lebih dari 60% ini menegaskan pentingnya manajemen risiko dan pemantauan fundamental emiten secara ketat terutama untuk saham berkapitalisasi kecil dengan likuiditas terbatas.







